Fobia

fobia

rhisehat.com Fobia adalah perasaan takut berlebihan yang dirasakan seseorang terhadap situasi atau objek tertentu. Kondisi ini adalah salah satu jenis gangguan kecemasan. Penderita fobia biasanya akan berusaha untuk menghindari situasi dan objek yang dapat memicu ketakutan, atau berusaha menghadapinya sambil menahan rasa takut dan cemas.

Tidak seperti rasa cemas biasa yang bersifat sementaa, fobia adalah kondisi permanen, yang menyebabkan reaksi fisik dan stres psikologis. Penyakit mental ini dapat memengaruhi kemampuan bekerja atau berinteraksi dalam lingkungan sosial yang normal.

Penyebab

Fobia disebabkan oleh berbagai penyebab, seperti:

  • Kejadian Trauma

Situasi yang pernah dilalui bisa menyebabkan seseorang mengalami trauma sehingga menyebabkan fobia terhadap situasi, objek, atau tempat tertentu. Misalnya, pengidap pernah mengalami turbulensi yang sangat parah saat berada di dalam pesawat, kondisi ini bisa memicu fobia naik pesawat atau berada di ruang yang tertutup.

  • Lingkungan

Fobia juga bisa muncul akibat respon terhadap kondisi lingkungan sekelilingnya. Misalnya, kamu memiliki orangtua atau kerabat dekat dengan kondisi fobia tertentu, hal ini bisa memengaruhi kamu.

  • Tingkat Stres yang Tidak Diatasi dengan Baik

Stres dapat memicu kondisi cemas dan depresi. Hal ini bisa menurunkan kemampuan kamu untuk beradaptasi dengan situasi maupun tempat yang memicu stres. Jika kondisi stres tidak diatasi dengan baik, kondisi ini menyebabkan cemas dan depresi yang lebih buruk dari sebelumnya. Inilah yang dapat memicu fobia pada situasi atau tempat tertentu.

Fobia bisa disebabkan oleh beragam hal. Berdasarkan jenis ketakutan yang timbul, fobia dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:

1. Fobia spesifik

Fobia spesifik merupakan fobia yang umumnya muncul pada masa anak-anak atau remaja. Misalnya takut terhadap hewan, takut tertular penyakit, takut jarum suntik (fobia fisik), takut terhadap lingkungan (ketinggian), atau fobia situasi.

2. Fobia Kompleks

Fobia kompleks memiliki dampak yang lebih mengganggu dibandingkan dengan fobia spesifik. Kondisi ini biasanya berkembang saat seseorang memasuki usia dewasa. Fobia jenis ini sering dihubungkan dengan ketakutan dan kecemasan pada suatu situasi atau kondisi. Fobia ini dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:

Fobia Sosial
Pengidap akan merasa takut dalam situasi sosial. Hal ini membuat penderitanya menghindari berbagai situasi sosial yang terjadi di sekitarnya. Penderita bisa mengalami kekhawatiran yang berlebih mengenai situasi sosial yang sedang terjadi.

Fobia sosial kerap membuat pengidapnya kesulitan untuk menjalankan kehidupan sehari-hari, seperti berbicara dalam kelompok, bertemu dengan orang baru, jalan-jalan ke tempat ramai, hingga makan dan minum di depan banyak orang. Kondisi ini juga dapat memengaruhi rasa percaya diri seseorang, membuatnya sulit berkembang, hingga menghambat kemampuan untuk bekerja.

Salah satu dari jenis-jenis gangguan mental ini mungkin diturunkan dalam keluarga. Orang yang malu dan suka menyendiri saat masih kecil bisa mengalami gangguan ini. Pengalaman tidak menyenangkan atau negatif juga menambah risiko mengalami fobia sosial.

Agoraphobia
Banyak yang berpikir bahwa agoraphobia hanyalah fobia terhadap tempat yang terbuka. Padahal kondisinya lebih rumit dari itu. Pengidap agoraphobia akan merasa cemas berlebihan ketika berada di tempat umum, ruangan tertutup, keramaian, atau situasi yang menyebabkan pengidap merasa kesulitan mendapat pertolongan.

Fobia ini menyebabkan gangguan pada hidup pengidapnya, seperti menurunkan kualitas hidup pengidapnya. Banyak pengidap agoraphobia sulit untuk meninggalkan tempat tinggalnya.

Faktor risiko fobia

Ada beberapa faktor yang diduga dapat memicu terjadinya fobia, di antaranya:

– Mengalami insiden atau trauma tertentu, misalnya takut naik pesawat akibat pernah mengalami turbulensi di pesawat.
– Menderita gangguan mental, seperti skizofrenia, depresi, OCD, gangguan panik, PTSD (post-traumatic stress disorder), atau gangguan kecemasan umum.
– Memiliki orang tua yang terlalu melindungi (over protective) atau memiliki hubungan yang kurang dekat dengan orang tua.
– Memiliki anggota keluarga yang mengalami fobia tertentu. Misalnya fobia terhadap laba-laba, karena ada keluarga yang juga takut pada laba-laba.
– Mengalami tekanan atau stres dalam jangka waktu panjang. Stres yang tidak dikelola dengan baik berisiko menurunkan kemampuan seseorang untuk mengatasi ketakutan yang muncul pada situasi atau kondisi tertentu.
– Kondisi lain, seperti mengalami cedera kepala yang menyebabkan kerusakan pada otak atau pernah menyalahgunakan NAPZA atau kecanduan alkohol.

Gejala

Fobia tak hanya ditandai dengan gejala psikis seperti rasa takut saja, sebab fobia juga bisa menyebabkan pengaruh pada kondisi fisik. Berikut beberapa gejala fisik yang bisa dialami pengidap fobia.

– Disorientasi atau bingung.
– Pusing dan sakit kepala.
– Dada terasa sesak dan nyeri.
– Sesak napas.
– Detak jantung meningkat.
– Tubuh gemetar dan berkeringat.
– Telinga berdengung.
– Sensasi ingin selalu buang air kecil.
– Mulut terasa kering.

Pengobatan Fobia

Pengobatan fobia bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup sekaligus membantu pasien untuk mengendalikan pikiran, perasaan, dan reaksinya terhadap situasi dan kondisi yang bisa memicu fobia. Beberapa metode pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi fobia antara lain:

Psikoterapi
Konseling dengan psikolog dan psikiater merupakan cara efektif untuk mengatasi fobia. Beberapa jenis psikoterapi yang bisa dilakukan untuk menangani fobia, yaitu:

Terapi perilaku kognitif (CBT)
Terapi ini dapat membantu pasien mengubah cara pandang dan cara bersikap terhadap situasi atau objek yang ditakuti. Terapi ini bertujuan agar pasien lebih percaya diri dan berpikir lebih positif.
Terapi pemaparan (desensitisasi)
Terapi ini dilakukan dengan memaparkan situasi dan benda yang ditakuti secara perlahan. Terapi ini bertujuan untuk mengurangi rasa takut yang dialami pasien secara perlahan. Bila diperlukan, hipnoterapi juga mungkin akan dilakukan untuk membantu mengurangi fobia.


Obat-obatan
Obat-obatan digunakan untuk menangani keluhan dan gejala yang muncul saat mengalami fobia dengan cepat. Obat-obatan yang digunakan berupa:

Penghambat pengikatan serotonin (SSRIs), untuk meredakan gangguan kecemasan dan meningkatkan suasana hati.
Penghambat beta (beta blockers), untuk menangani gejala akibat panik, seperti detak jantung tidak beraturan.
Benzodiapine, untuk menangani gangguan kecemasan yang parah.
Program bantuan mandiri
Program ini bertujuan untuk membantu pasien agar dapat mengatasi gejala fobianya sendiri. Program ini terdiri dari:

Perubahan gaya hidup, seperti tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, serta mengurangi atau menghindari konsumsi makanan dan minuman yang mengandung kafein.
Relaksasi, seperti melakukan teknik pernapasan untuk membantu pasien lebih rileks saat berhadapan dengan pemicu fobia.
Visualisasi, untuk membantu pasien mengatasi fobia yang diderita dengan membayangkan hal-hal positif saat menghadapi situasi dan benda yang memicu fobia.
Masuk dalam kelompok yang memiliki kesamaan fobia, untuk berbagi cara mengatasi fobia yang dialami.

aldokter. accessed on 2022 Fobia
halodoc. accessed on 2022 Fobia
hellosehat. accessed on 2022 Fobia